Hilangnya Kaki (Datuk) Batua di Zona Rimba

By Redaksi SR 16 Jul 2019, 16:25:14 WIB Nasional
Hilangnya Kaki (Datuk) Batua di Zona Rimba

Keterangan Gambar : Foto: mongabay indonesia


AWAL Juli, seekor harimau sumatera [Panthera tigris sumatrae] jantan diamputasi kaki kanan depannya oleh Tim Medis BKSDA Bengkulu – Lampung, yang tergabung dalam Tim Reaksi Cepat dari Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan [BBTNBBS] dan Tim Wildlife Rescue Unit [WRU]. Bagaimana kondisinya saat ini?

Harimau yang diberi nama Kyai Batua itu, kini dalam perawatan intensif dokter hewan di Taman Konservasi Lembah Hijau, Kota Bandar Lampung, Lampung.

Menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung Balai Konservasi Sumber Daya Alam [BKSDA] Bengkulu Hifzon Zawahiri, Kyai bermakna kakak panggilan kehormatan bagi suku Lampung. Sedangkan Batua, mengandung arti harimau jantan itu ditemukan di daerah Batu Ampar yang masuk Desa Ringin Sari, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Lampung.

“Kondisi Batua kian membaik. Selalu diberi vitamin dan juga volume makanan yang terus bertambah. Satu hari ia bisa menghabiskan 4 sampai 6 ekor ayam,” kata Hifzon.

Batua mendapat perawatan dari tiga dokter hewan yakni Erni Suyanthi, Karyo, dan Sugeng Dwi Hastono. Ditambah perawat dan seorang penjaga.

Sementara waktu, ia dirawat dalam kandang berukuran 3 x 4 meter. “Walaupun jalannya agak pincang, tetapi sangat agresif,” katanya lagi.

Tim medis akan terus melakukan perawatan maksimal enam bulan ke depan. Sampai kondisinya cukup baik. “Terkait apakah Batua akan dilepaskan ke alam kembali atau dipindah, kami belum mendapat rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK],” ujarnya.

Perjuangan

Batua memiliki berat sekitar 109 kilogram, dengan usia 3-4 tahun. Dia ditemukan Selasa [02/7/2019], ketika Tim Patroli Balai BBTNBBS dan Wildlife Conservation Society-Indonesian Program [WCS-IP] melakukan pemantauan populasi harimau di bagian tengah TNBBS [IPZ-Intensive Protection Zone] sebagai rangkaian kegiatan SWTS II.

Tim melakukan pemasangan kamera jebak secara periodik pada tanggal 26 Juni – 6 Juli 2019 di Resort Ngambur, Biha, dan Suoh. Pada Selasa, sekitar pukul 12.37 WIB, tim yang terdiri Taufik Hidayah [Polhut TNBBS], Marino [WCS-IP], dan porter [Sagiono, Sutono, dan Eko Suharno] memasang kamera di Resort Suoh.

Mereka, mendengar raungan harimau. Setelah didekati, tampak seekor harimau terlilit jerat. Kaki kanan depannya terkena jerat sling. Tim langsung melaporkan kejadian ke pihak TNBBS untuk secepatnya melakukan tindakan.

Lokasi ditemukan harimau, masuk Resort Suoh SPTN III, BPTN II Liwa. Jika diplotting dalam peta kawasan TNBBS, lokasi tersebut berada di zona rimba.

Anggota Tim Reaksi Cepat [TRC] BBTNBBS Ujang Suryadi menceritakan upaya evakuasi harimau, selain TRC dan BKSDA, yang melibatkan sembilan warga untuk mengangkut Batua.

“Dari tempat pemberhentian mobil ke lokasi, berjarak sekitar tiga kilometer. Kami juga membawa para dokter ke lokasi Batua ditemukan, menggunakan motor trail sekitar dua kilometer,” tuturnya.

Dan masih harus ditempuh berjalan kaki lagi untuk sampai ke lokasi. Evaluasi sekitar lima kilometer untuk sampai ke mobil yang mengangkut.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan, kaki Batua terjerat sekitar 2 sampai 3 hari dari ditemukan. “Luka yang kian membusuk itu, berujung diamputasinya kaki kanan depan Batua pada 5 Juli 2019,” terang Ujang.

Belum ada titik terang pelaku

Batua ditemukan sekitar 500 meter dari kebun kopi dan lada. “Kasus ini masih pendalaman. Identifikasi sementara, pelaku adalah kelompok liar,” kata Ujang.

Dia menambahkan, jerat yang dipasang bila dilihat dari segi pelontarnya yang kecil, targetnya bukan satwa besar. “Bisa jadi satwa kecil atau hewan yang dianggap hama oleh di penggarap kebun,” ujarnya.

 

 

 

 


Sumber: mongabay.co.id/suararaya.com




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment